Sabtu, 01 Juli 2017

Judulnya mengarang bebas tentang negeri sendiri



Indonesia , tempat dimana saya dan sebagian besar keluarga saya dilahirkan. Disinilah saya bertumbuh dengan segala keunikan, kelebihan, juga kekurangannya. Tumbuh di negara yg masih berkembang. Yaa negaraku memang bukanlah negara yang maju. Juga bukan pula negara yang miskin. Tapi setidaknya, keinginan untuk bertumbuh melangkah maju kedepan itu ada. Tentu! ada dalam benak kami (warga pribumi). Siapa yang tidak ingin, tinggal  di negara yang mengutamakan kemakmuran bagi semua rakyatnya. Contoh nya saja  Qatar! Yang disebut-sebut sebagai negara yang ‘aneh’.  Aneh??????? Ko aneh ya? Padahal tinggal disana sudah terjamin kemakmuran bagi warganya. Haha.... itu hanya sebuah candaan saja. Karena saking bingung nya harus memberikan nama apa yang pantas untuk negara tersebut. Menurut informasi yang saya baca di media cetak terpercaya.  Di negara Qatar hampir tidak ada bayar pajak nya. Sekolah gratis, bahkan hingga perguruan tinggi pun akan mereka biayai dan jaminan pekerjaan bagi para lulusan-lulusannya. Rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya, tak luput dari jangkauan pemerintahannya alias gratis tis tis tis. Dan kalau tidak salah  hunian pun ikut difasilitasi oleh negaranya. Fasilitas olahraga yang tidak perlu ditanyakan lagi. Yaaa stadion sepak bola yang sekelas piala dunia pun tersedia. Sirkuit moto gp pun sudah berskala internasional. Kurang apalagi coba enaknya tinggal di negara tersebut? Seperti halnya Brunei Darussalam pun, sangatalah makmur. Terus aku harus bagaimana melihat makmurnya negara-negara yang sudah maju lebih dulu? Haruskah aku iri?

Well,itu semua ga terlepas dari kejujuran orang-orangnya dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin. Ga ada yang namanya korupsi! Kalopun ada korupsi di negara maju, tapi ga akan se-merajalela  seperti di tanah airku. Sedikit-sedikit ada berita si anu korupsi si itu si ini terlibat korupsi. Mulai dari yang betulan orangnya korupsi, sampai ke fitnah yang dibuat-buat agar bisa menjatuhkan pihak lawan. Aaarghhh cukup sudah dengan semua kedzaliman dari para pemimpin yang menduduki pemerintahan. Lagi pula kepemimpinan* macam apa ini? Berita hoax dan korupsi terus yang membanjiri di berbagai media. Para koruptor itu ga punya urat malu apa? Ketika mereka diberitakan kasus korupsi masih bisanya tersenyum ke kamera. Dadah-dadah pula! Gaa ngerti ga ngerti lagi. Apa maunya! Padahal difikir-fikir pakai logika juga buat apa memperkaya diri dengan korupsi sampai miliyaran. Toh hidup ini ga ada yang usianya sampai ribuan tahun ko, sampai-sampai mau menimbun uang  sebegitu banyaknya. Emangnya mau dibawa mati atau mau dibawa ke akhirat apa tu duit? Tapi... aduuuuh udahlah percuma juga bahas koruptor di tulisan ini, karna ga bisa dan ga akan mudah mengubah keadaan negaraku ini jika hanya dengan ketikan dari jari-jemariku yang unyu ini :D

Mungkin juga sistem hukum nya yang kurang memberikan efek jera bagi si pelaku korupsi, juga bagi pelaku kriminal lainnya. Oh iya ada tambahan catatan juga tentang Qatar yang beribukota kan Doha, disana yang namanya penjara itu sepi.... kosongggg.. saking minimnya tingkat kriminalitas.  Wahh sudah makmur, kaya, negara yang aman dan beriman pula. Pantas saja Allah Ta’ala beri kelimpahan pada negaranya. Hm,,,,, lalu negara kita kapan ya bisa berkah begitu???

**************************

Selain prilaku jujur, hal positif lainnya ialah rasa bertanggung jawab yang tinggi atau memiliki kepedulian yang tinggi. Contohnya saja dalam hal buang sampah. Negara jepang misalnya, mereka sudah dididik sedari kecil, tumbuh dewasa dengan berbagai kedisiplinan hingga menjadi sebuah kebiasaan. Kalau kata Aa Gym perilaku orang-orang Jepang itu, menggambarkan nilai-nilai islam hanya saja mereka tidak beriman. Tapi nilai-nilai islamnya sudah ada. Misalnya semboyang “kebersihan sebagian daripada iman” ... kan orang-orang Jepang sudah menanamkan itu bahkan hingga membudaya sekali. Saya tau dari salah satu teman saya yang juga warga asli jepang, katanya membuang sampah sembarangan itu adalah sebuah aib. Jadi mereka biasa menyimpan sampah di saku celana atau pakaian atau di saku tas, hingga mereka menemukan tong sampah untuk membuangnya.  Kemudian semboyan tentang “Al waktu kassaef” alias waktu itu adalah pedang, yang mana bila kita tak pandai memanfaatkannya maka berbalik hingga berpengaruh buruk bagi si pemilik waktu. Ternyata di negara Jepang, saking mereka menghargai waktu. Sejak kecil sudah digembleng  untuk mengatur waktu per menit ada jadwalnya. Bayangkan permenit mereka punya jadwal sehari-hari harus ngapain aja, harus kemana aja, dan menjadi kebiasaan hingga dewasa mereka jarang melakukan hal yang sia-sia sehingga mereka banyak melakukan hal yang  produktif. Speechless lah aku, saat tau kebiasaan mereka selalu membuat daily schedule. Aku aja sering kerepotan dan merasa risih ga mau diatur-atur ketika diberi jadwal dari asrama atau pondok pesantren yang  full daily activities, karna merasa seakan-akan ga punya waktu untuk me time *yaelah gaya banget* :D ... lalu pernah mencoba juga ikuat menerapkan kebiasaan orang jepang yang membuat daily schedule, tapi sayangnya baru bisa bikin per jam aja. Dan itupun ga konsisten dalam penerapannya.
juga rasa bertanggung jawab  
 Tragis memang, ketika ada hal baik dari negara lain yang notabene nya negara maju, tapi ga bisa di tiru diterapkan nilai-nilai kebaikannya. Kita yang tinggal di negara yang masih terbelakang atau jauh dari kata maju, sering bilang ih enak ya hidup di negara anu (red: maju) ih enak ya ih enak ya (termasuk aku juga dulu begitu). Tanpa mengetahui kerja keras mereka dalam membangun negaranya hingga bisa menjadi maju seperti sekarang ini. Jadi bukan cuma satu dua orang yang berubah atau yang berusaha, tapi semuanya bergerak untuk kemajuan bangsanya... coba kalau itu bisa diterapkan di negara kita. Hm ... pasti cepat sekali negaara kita bisa menjadi maju dan terdepan. 

Judulnya mengarang bebas tentang negeri sendiri

Indonesia , tempat dimana saya dan sebagian besar keluarga saya dilahirkan. Disinilah saya bertumbuh dengan segala keunikan, kelebihan...