Indonesia ,
tempat dimana saya dan sebagian besar keluarga saya dilahirkan. Disinilah saya
bertumbuh dengan segala keunikan, kelebihan, juga kekurangannya. Tumbuh di
negara yg masih berkembang. Yaa negaraku memang bukanlah negara yang maju. Juga
bukan pula negara yang miskin. Tapi setidaknya, keinginan untuk bertumbuh
melangkah maju kedepan itu ada. Tentu! ada dalam benak kami (warga pribumi).
Siapa yang tidak ingin, tinggal di
negara yang mengutamakan kemakmuran bagi semua rakyatnya. Contoh nya saja Qatar! Yang disebut-sebut sebagai negara yang
‘aneh’. Aneh??????? Ko aneh ya? Padahal
tinggal disana sudah terjamin kemakmuran bagi warganya. Haha.... itu hanya
sebuah candaan saja. Karena saking bingung nya harus memberikan nama apa yang
pantas untuk negara tersebut. Menurut informasi yang saya baca di media cetak
terpercaya. Di negara Qatar hampir tidak
ada bayar pajak nya. Sekolah gratis, bahkan hingga perguruan tinggi pun akan
mereka biayai dan jaminan pekerjaan bagi para lulusan-lulusannya. Rumah sakit sebagai
pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya, tak luput dari jangkauan
pemerintahannya alias gratis tis tis tis. Dan kalau tidak salah hunian pun ikut difasilitasi oleh negaranya.
Fasilitas olahraga yang tidak perlu ditanyakan lagi. Yaaa stadion sepak bola
yang sekelas piala dunia pun tersedia. Sirkuit moto gp pun sudah berskala
internasional. Kurang apalagi coba enaknya tinggal di negara tersebut? Seperti
halnya Brunei Darussalam pun, sangatalah makmur. Terus aku harus bagaimana
melihat makmurnya negara-negara yang sudah maju lebih dulu? Haruskah aku iri?
Well,itu semua
ga terlepas dari kejujuran orang-orangnya dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin.
Ga ada yang namanya korupsi! Kalopun ada korupsi di negara maju, tapi ga akan
se-merajalela seperti di tanah airku.
Sedikit-sedikit ada berita si anu korupsi si itu si ini terlibat korupsi. Mulai
dari yang betulan orangnya korupsi, sampai ke fitnah yang dibuat-buat agar bisa
menjatuhkan pihak lawan. Aaarghhh cukup sudah dengan semua kedzaliman dari para
pemimpin yang menduduki pemerintahan. Lagi pula kepemimpinan* macam apa ini?
Berita hoax dan korupsi terus yang membanjiri di berbagai media. Para koruptor
itu ga punya urat malu apa? Ketika mereka diberitakan kasus korupsi masih
bisanya tersenyum ke kamera. Dadah-dadah pula! Gaa ngerti ga ngerti lagi. Apa
maunya! Padahal difikir-fikir pakai logika juga buat apa memperkaya diri dengan
korupsi sampai miliyaran. Toh hidup ini ga ada yang usianya sampai ribuan tahun
ko, sampai-sampai mau menimbun uang sebegitu banyaknya. Emangnya mau dibawa mati
atau mau dibawa ke akhirat apa tu duit? Tapi... aduuuuh udahlah percuma juga
bahas koruptor di tulisan ini, karna ga bisa dan ga akan mudah mengubah keadaan
negaraku ini jika hanya dengan ketikan dari jari-jemariku yang unyu ini :D
Mungkin juga
sistem hukum nya yang kurang memberikan efek jera bagi si pelaku korupsi, juga
bagi pelaku kriminal lainnya. Oh iya ada tambahan catatan juga tentang Qatar
yang beribukota kan Doha, disana yang namanya penjara itu sepi.... kosongggg..
saking minimnya tingkat kriminalitas.
Wahh sudah makmur, kaya, negara yang aman dan beriman pula. Pantas saja
Allah Ta’ala beri kelimpahan pada negaranya. Hm,,,,, lalu negara kita kapan ya
bisa berkah begitu???
**************************
Selain prilaku
jujur, hal positif lainnya ialah rasa bertanggung jawab yang tinggi atau
memiliki kepedulian yang tinggi. Contohnya saja dalam hal buang sampah. Negara
jepang misalnya, mereka sudah dididik sedari kecil, tumbuh dewasa dengan
berbagai kedisiplinan hingga menjadi sebuah kebiasaan. Kalau kata Aa Gym
perilaku orang-orang Jepang itu, menggambarkan nilai-nilai islam hanya saja
mereka tidak beriman. Tapi nilai-nilai islamnya sudah ada. Misalnya semboyang
“kebersihan sebagian daripada iman” ... kan orang-orang Jepang sudah menanamkan
itu bahkan hingga membudaya sekali. Saya tau dari salah satu teman saya yang
juga warga asli jepang, katanya membuang sampah sembarangan itu adalah sebuah
aib. Jadi mereka biasa menyimpan sampah di saku celana atau pakaian atau di saku
tas, hingga mereka menemukan tong sampah untuk membuangnya. Kemudian semboyan tentang “Al waktu kassaef”
alias waktu itu adalah pedang, yang mana bila kita tak pandai memanfaatkannya
maka berbalik hingga berpengaruh buruk bagi si pemilik waktu. Ternyata di
negara Jepang, saking mereka menghargai waktu. Sejak kecil sudah
digembleng untuk mengatur waktu per
menit ada jadwalnya. Bayangkan permenit mereka punya jadwal sehari-hari harus
ngapain aja, harus kemana aja, dan menjadi kebiasaan hingga dewasa mereka
jarang melakukan hal yang sia-sia sehingga mereka banyak melakukan hal yang produktif. Speechless lah aku, saat tau
kebiasaan mereka selalu membuat daily
schedule. Aku aja sering kerepotan dan merasa risih ga mau diatur-atur
ketika diberi jadwal dari asrama atau pondok pesantren yang full
daily activities, karna merasa seakan-akan ga punya waktu untuk me time *yaelah gaya banget* :D ... lalu
pernah mencoba juga ikuat menerapkan kebiasaan orang jepang yang membuat daily
schedule, tapi sayangnya baru bisa bikin per jam aja. Dan itupun ga konsisten
dalam penerapannya.
juga rasa
bertanggung jawab
Tragis memang, ketika ada hal baik dari negara
lain yang notabene nya negara maju, tapi ga bisa di tiru diterapkan nilai-nilai
kebaikannya. Kita yang tinggal di negara yang masih terbelakang atau jauh dari
kata maju, sering bilang ih enak ya hidup di negara anu (red: maju) ih enak ya
ih enak ya (termasuk aku juga dulu begitu). Tanpa mengetahui kerja keras mereka
dalam membangun negaranya hingga bisa menjadi maju seperti sekarang ini. Jadi
bukan cuma satu dua orang yang berubah atau yang berusaha, tapi semuanya
bergerak untuk kemajuan bangsanya... coba kalau itu bisa diterapkan di negara
kita. Hm ... pasti cepat sekali negaara kita bisa menjadi maju dan terdepan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar