Minggu, 25 Juni 2017

MENDAMBA atau jadi DAMBAAN ????

Dilema saat hati harus memilih siapa yg pantas untuk bersanding menjadi partner hidup. Mereka berlomba-lomba mendapatkan sang dambaan hatinya.
Hm.... Sempat terfikir menjadi dambaan itu enak. Tapi ternyata menjadi dambaan orang orang tidaklah seindah dalam lamunan. Dielu-elukan, dipuji-puji, disanjung-sanjung, sudah menjadi santapan sehari-harinya. Tapi! Untuk apa itu semua?

Kalaulah boleh memilih antara harus mendamba atau menjadi dambaan? Pasti jawaban yg terlontar dari banyak orang ya menjadi dambaan! Seakan dambaan itu adalah sebuah anugrah. Merasa menjadi anugrah karena disekelilingnya akan ada yg memperhatikan, dijadikan buah bibir orang-orang,  dan dinanti-nantikan kehadirannya.

Di fikir.. Jadi dambaan itu enak!
Rupanya, hanya akan mendatangkan dilema. Kalau sudah dilema seperti itu, mendamba menjadi jawaban juga solusi yg tepat dan posisi wuenak.

Tapi... Siapa yg bisa menyangka, bisa menjadi seorang yg di damba-dambakan. Ahh, itulah skenario yg sudah tertulis dlm kertas taqdir Nya.

Ku fikir... Menjadi dambaan itu enak!
Ga perlu lagi repot-repot memikirkan si A si B si C, orang yg kita inginkan.
Karenanya, cukup lelah jika harus mendambakan doi yg sesuai dengan kriteria yg sudah diatur sedemikian rupa. Namun kenyataan selalu berbeda dan berkata lain, menjauhi asa tak ubahnya waktu siang berganti malam. Malam yg penuh dg keluh kesah penyesalan, kala siang datang tak ia sambut dg penuh semangat.

*****

Tabiat Muslimah yg shaliha dan baik
selalu mencari imam yg baik
Yang paling penting bukanlah Mendamba,
Tapi jadilah Dambaan!
Berdoa minta sama Alloh, Ia kasih
Minta sama Alloh!
Ya Alloh sesungguhnya aku sudah ingin me-ni-kah
Datangkanlah untuk ku, lelaki yg paling menjaga kehormatannya
Lelaki yg paling bisa menjaga diriku dan hartaku
Nikahkan aku dengan lelaki sholeh yg menyejukan hatiku
Ya Alloh, Engkau mampu menundukan yg kuat untuk yg lemah
Kalau Engkau mampu menundukan ini dan itu
Maka Engkau mampu menundukan satu lelaki yg baik untukku...

Jumat, 09 Juni 2017

Ketika Para Jomblo Mulai Mempertanyakan Dimana Jodohnya ( bagian 2 )

Setelah tulisan sebelumnya membahas tentang esensi sebuah pernikahan. Nah di bagian kedua ini, lebih ke tadabbur quran surat Al-Qasas ayat 14-28. 

Dimana, dalam surat tersebut meng-kisahkan Nabiyulloh Musa Alaihis-salam. Bagaimana menjadi jomblo yg mulia, jomblo teladan, dan menjadi wanita shaliha yg menjaga muruah nya dengan tidak ber-tabarrujal jahiliyah. 

*****

Kisah nabi Musa sangatlah menarik untuk dibahas, dan dijadikan sebuah contoh teladan bagi para 'usme' dan jomblowan jomblowati. Beliau ibaratkan ambassador yg Allah pilihkan, alias Nabi dan Rasul yg tugas nya berdakwah menyampaikan wahyu ke berbagai penjuru bumi ini. Jadi bukan produk atau brand ternama aja yang bisa punya Ambassador. Allah swt juga memilih dari hambaNya yang akan dijadikan contoh untuk bisa diambil pelajaran kelak bagi setiap umat umat yg ada.

Sebenarnya saya belumlah pantas untuk memberikan pengajaran tentang Alquran. Karena masih fakir ilmu. Apalagi ilmu mengenai alquran, dari mulai tafsir sampai pelafalan atau tajwid, masih kudu terus diasah.

Jadi niat saya bukan mau mengajarkan, tapi lebih ke share ilmu atau lebih tepatnya copas dari sang guru. Ga enak juga kan punya ilmu tapi dipendam aja terus ga di share.

Mudah-mudahan bisa saling mengingatkan dan saling mengajak dalam kebaikan.

***

Start reading now . . . 

***


Nabi Musa a.s semasa menjabat jadi jomblowan, alias di masa muda nya. Beliau memiliki banyak sekali tantangan. Kebayang dong harus mendakwahi Firaun. Dalam sejarah mengatakan Firaun di zaman nabi Musa adalah Raja Ramses II. Padahal sejak kecil nya nabi Musa diasuh oleh istrinya Firaun, ia menjadi putra angkat dari Firaun.

Setelah cukup dewasa ia harus berdakwah menyebarkan kalimatulloh atau membumikan tauhidulloh. Ada dua kaum saat itu. Bani israil yg menjadi kaum atau umatnya nabiyulloh Musa, dan pengikutnya Firaun yg berarti mereka kafir.

Musa dewasa pernah membunuh seseorang di kalangan kaum yg menjadi musuh dari umatnya. Nabi Musa yg berniat hanya ingin membela kaumnya, tapi ternyata pukulan nya itu terlampau keras sehingga lawannya saat itu pun meninggal.

Nabiyulloh Musa segera memohon ampunan pada Nya. Ia beristighfar dan berdoa, seraya berkata " Ya Rabb sungguh aku mendzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku."

Setelah kejadian tersebut nabi Musa merasa waswas jika terus berada di kota nya Firaun. Dan nabi Musa pun keluar dari kota itu dengan perasaan takut. Dan seperti biasa nabi Musa mengangkat tangan dan berdoa, 

"Ya Rabb, selamatkan aku dari orang-orang yg zalim itu." 

"Ya Rabb mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yg benar."

"Ya Rabb sungguh aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan dariMu."

Dan terus terus terus berdoa, memohon dan meminta perlindungan dari sang Khaliq. Jadi apapun yg nabi Musa lakukan ia selalu melibatkan Allah. Dari hal yg kecil semisal meminta makanan, nabi Musa musa berdoa, apalagi hal yg besar atau hal yg sulit bahkan mustahil sekalipun. Beliau terus berdoa berdoa dan berdoa. Dan catatan yg penting nya, Nabi Musa juga berdoa meminta jodoh. Sehingga menikahlah ia dengan salah satu dari anak perempuan nya nabi Syu'aib.

Pesan moral dalam kisah tersebut adalah menjadi jomblo atau singlelillah yg berkualitas, yg dicintai oleh Allah. Kenapa bisa begitu? Karena nabi Musa selalu merasa butuh terhadap Allah. Bagaimana tidak? Sedikit sedikit nabi Musa berdoa dan terus seperti itu. Dengan berdoa, menandakan bahwa diri ini lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Nya. 

Sebagaimana yg disampaikan oleh ustad Hanan Attaki, jadi perbanyaklah berdoa. Libatkan Allah dalam urusan sekecil apapun. Agar bisa menjadi hamba yg dicintai oleh-Nya seperti nabi Musa.

Nah jadi sekarang udah sinkron dong, antara judul dan bahasan nya. 

Ga perlu bersusah susah dan kalang kabut mencari jodoh kesana kemari. Di ta'arufin sama ini itu ga ada yg jadi. Dido'ain sama ini itu belum juga berhasil. Tebar pesona sana sini ga ada yg nyangkut. Atau malah banyak yg datang tapi bingung pilih yg mana, dan ujung-ujungnya belum berjodoh. 

Mungkin kurang pake jalur langit. Kurang ikhtiar dalam melobi Allah nya. Dan itu teguran juga buat saya. 

Jadi stop bertanya dan mempertanyakan dimana jodoh, dimana dia, dimana jodoh? Lebih baik kita tanyakan pada diri kita masing masing, Dimana Allah? Apakah ia ada dalam hatimu? Seperti yg dicontohkan oleh nabi Musa

#Aenalloh #Aenalloh 

***

Pelajaran yg selanjutnya. Copas dari catatan kajian sewaktu di DT.




Dikisahkan juga dalam surat Al Qassas, bagaimana nabi Musa bertemu dengan wanita yg shaliha, ia salah satu putri dari seorang nabiyulloh Syu'aib a.s bernama saros.

Ketika nabi Musa a.s dalam perjalanan safar nya, ia melihat 2 pengembala wanita yang sedang menunggu giliran untuk bisa memberi minum ternak ternaknya. 

Nabi Musa menanyakan keadaan mereka, dan pengembala wanita tersebut menjelaskan bahwa mereka sedang menunggu giliran, karena tidak ingin ikut berdesak-desakan dengan para pengembala lelaki. Yg mana mereka tidak ingin bertabarujal jahiliyyah. Atau mengikuti kebiasaan wanita jahiliyyah yg terbiasa berkerumun berbaur dengan laki laki. 

Masyaalloh... Sungguh mulia sekali kedua wanita tersebut. Sebagai wanita yg menjaga muruahnya. Menjadi teladan dalam menjaga dirinya dari hal-hal yg tidak Alloh ridhoi. Dan nabi Musa pun juga terkesan dengan keshalihan kedua wanita tersebut. Sehingga menawarkan diri membantu mereka mengambilkan air untuk ternak nya.

Sebagai rasa terima kasih, lalu salah satu dari pengembala wanita tersebut meminta nabi Musa untuk datang kerumahnya. Dengan maksud ingin menjamunya. Nabi Musa menerima tawaran wanita tersebut. 

Dlm perjalanan, kedua pengembala wanita berada di depan dan nabi Musa di belakangnya mengikuti mereka. Ternyata angin yg berhembus cukup kencang sehingga terangkat dan tersimbak baju dari sang pengembala wanita tersebut. Nabi Musa yg saat itu segera menutup matanya dan menjaga dirinya pula, menawarkan diri untuk berjalan berada di depan mereka. Dan sebagai petunjuk jalannya, pengembala wanita akan melemparkan batu ke arah kanan atau kiri. Agar nabi Musa mengetahui kemana ia harus melangkah. Jadi dalam segi pembicaraan pun hanya seperlunya saja, si wanita berbicara hanya saat ia menjawab pertanyaan dan memberi jamuan makan sebagai upah. 

Subhanalloh... Masyalloh.. entah kata kata apalagi yg harus saya ucapkan. Melihat begitu indahnya akhlaq dari para jomblowan jomblowati eh singlelillah atau jomblo fii sabilillah yg dicontohkan oleh nabi Musa dan kedua pengembala wanita diatas. 

Tidak ada interaksi yg berlebihan antara wanita dengan lelaki. Dan memang seharusnya begitu. 

Dan nilai moral yg dicontohkan kedua pengembala wanita atau anaknya nabi Syu'aib ialah #Sabar dan #RasaMalu 

Kedua sifat tersebut menjadikan seorang wanita itu akan lebih mulia. Sabar sebagai. Sedangkan malu-malu sebagai mahkota nya wanita.

******

Kisah diatas saya tuliskan dan serap dengan seksama dari ustadz kondang di kalangan anak muda bandung. Ustadz Hanan Atakki.. 

Selalu suka dengan kajian beliau, yg selalu membawakan kisah atau siroh nabawiyah atau pun salaffus-salih di setiap tema kajian yg ia bahas. Sehingga memudahkan audience nya memahami isi kajian.

***

Alhamdulillah.. Sekian tulisan kali ini. Mudah-mudah bermanfaat bagi yg baca terlebih untuk penulisnya semoga diberi ke-istiqomahan. 







Judulnya mengarang bebas tentang negeri sendiri

Indonesia , tempat dimana saya dan sebagian besar keluarga saya dilahirkan. Disinilah saya bertumbuh dengan segala keunikan, kelebihan...