Kamis, 18 Mei 2017

Ketika Para Jomlo Mulai Mempertanyakan Dimana Jodohnya

Apa kabar Mblooo????
Yang jomblo yang jomblo mana suaranya?
Insyaalloh yang jomblo mah lebih mulia pastinya yaa *ngebeladirisendiri* lol

Bismillah, Kali ini kita bakal membahas tentang hiruk pikuk para jofisa alias jomlo fii sabilillah. Bagus kan singkatannya? Daripada jones, udah ma jomblo ditambah kata ngenes lagi. Astaghfirulloh hati hati jaga hati orang lain! LOL

Nemu pic ini di pinterest, iseng iseng nyari gambar nulis kata jomblo yang keluar ini. Bagus aja keliatannya, "pertemuan jodoh". Jadi punya ide untuk nulis bahas tentang jodoh. Kali ini para jofisa ga perlu khawatir atau merasa tersudutkan. Karna tulisan di blog ini bakal ngebelain kalian habis habisan. Jadi kalem aja, okay!!*sijomblomulaibernafaslega* 😅 LOL _______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Jodoh jodoh jodoh... Apa sih jodoh? Sampai jadi ttww (trending topic world wide) seperti di twitter. Sebegitu famous nya kah di kalangan para usme alias usia menikah. Dan ya, nikah nikah nikah... Sudah taukah apa itu nikah pernikahan? Maksud dari apa itu nikah, bisa berarti essensi, pengertian, faedah manfaatnya, cara memperolehnya dan hal lainnya. Agak risih memang, ketika banyak orang-orang yang kepo alias mulai diserang dengan berbagai pertanyaan.

Emmmmmmh "Kapan nikah??" "Mau sama siapa nikahnya nih?" "Sekarang lagi sama siapa?" "Mau sama orang mana nikahnya?" "Ko belum nikah?" "Cepetan nikah!". Dan Pertanyaan lainnya yang lama kelamaan bikin mumet otak.

Ya sih tinggal di jawab "mohon doanya saja. Mudah mudahan cepat ketemu jodohnya." Simple aja sih jawabannya, tapi teteup hati mah ga mungkin bisa dibohongi x_x alias sebel iya, sakit iya, risih iya, pusing iya, mumet iya, marah iyaaaaaaa sih enggaklah.

Dan dari setiap pertanyaan yang mereka lontarkan. Itu bisa mencerminkan bagaimana dan seperti apa mindset orang-orang tersebut. Yang memang udah jadi kebiasaan saya sih suka menganalisis mindset setiap orang. Sebenarnya apa sih yang jadi masalahnya mereka? Sibuk berkomentar, mengomentari kita yang 'usme' dengan menanyakan nikah nikah. Kenapa harus seperti itu pertanyaannya? Kan bisa membahas hal lainnya yang bisa lebih berfaedah lagi. Melontarkan pertanyaan yang bisa menambah insights misalnya. Jadi stop men-judge kami kami yang usme. Lah ko curhat gini ya... mulai lagi bahas ngaler ngidul nya. ^_^

Perlu diakui, mungkin mereka hanya bermaksud untuk memberikan attensi nya alias bentuk perhatian mereka. Karna perhatian tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian mereka pada kita (nunjuk usme). Hanya penyampaian nya yang mungkin kurang pas. Atau penerimaan para usme nya yang mudah baper. Terlepas dari itu semua, adalah perspektif. Ya karna perspektif tiap orang akan berbeda-beda. Begitu juga dengan mindset yg pastinya berbeda pula. Jadi akan sangat sulit untuk menyatukan perspektif juga mindset. Jadi perspektif orang mengenai pernikahan itu bermacam macam deskripsi nya. Ada yang beranggapan nikah muda itu bagus, ada yang enggak. Ada yang berpendapat menikah itu harus mapan dulu, dari segi biaya hidup atau dari segi keilmuan atau pengetahuan. Ada juga yang sebaliknya, ga perlu mapan. Ada yang menganggap menikah itu perlu diperhitungkan bibit bebet bobot nya, atau yang punya tahta yang berdarah biru harus dengan yang sepadan. Yang keturunan ningrat dengan yg keturunan ningrat. Ada juga yang sebaliknya, yang ga perlu perhitungan. Dan perspektif lainnya tentang pernikahan. Masing masing dari mereka punya argumentasi nya tersendiri dong ya. Alasan dari yang mereka pilih, itu semua perspektif dan mindset yang telah membangun pribadi diri mereka masing-masing.

Berhubung dari tadi bahasnya perspektif terus. Lalu bagaimana atau seperti apa sih perspektif saya mengenai pernikahan? Yang sengaja saya buat di artikel blog kali ini. Jika menurut saya, dari segi perspektif saya. Pernikahan itu yang terpenting yang harus diperhatikan adalah 'Essensi'. Jadi essensi dari sebuah pernikahan sendiri itu apa sih? Begitu banyak orang-orang yang menginginkan pernikahan. Tapi mereka ga sadar apa tujuan mereka. Apa makna yang di kandungnya. Bukan kandungan hamil loh ya. Tapi makna kandungan dari yang namanya nikah! For example, misalnya saja ketika saya tanya arti menikah. Kebanyakan orang jawabannya "kan nikah ibadah" "kan nikah sunah rosul" "kan nikah menyempurnakan separuh daripada iman". Ya memang betul ga salah salah amat ko, amatnya aja ga salah. *lhooh

Jawaban nya sih betul semua, sesuai dengan yang Alloh SWT anjurkan. Hanya saja proses perjalanan nya yang seringkali berbeda arah haluan, dengan yang Alloh anjurkan. Nah itu dia inti problem nya. Kalo memang menikah itu sebuah ibadah, dan bahkan ibadah yang sangat agung sekalipun. Juga, nikah itu merupakan sunah rosul dan menyempurnakan separuh dari iman. Bukankah, ibadah itu perlu adanya ilmu? Kalaulah tidak memiliki ilmu maka ibadahnya pun bisa jadi ga sah.

Ambil contoh, misalkan sholat. Sholat sunah rawatib. Ada seseorang yang baru belajar agama. Ia ingin menambah amalan, salah satunya dengan memperbanyak shalat dan agar terlihat rajin. Ia hendak melakukan shalat rawatib. Yang mana setelah berjamaah ia kembali berdiri untuk melakukan gerakan shalat. Tapi apa yang terjadi justru orang-orang di sekeliling nya menatap dengan tatapan heran. Atau malah ada yang terkikik menahan tawa. Setelah ia salam ia pun ditegur. "Nak maaf, kenapa tadi setelah shalat jamaah malah berdiri lagi dan melakukan gerakan shalat? Lain kali jangan ya." "Memangnya kenapa pak? Kan saya shalat sunah rawatib." jawabnya. "Kalau shalat rawatib ada masanya. Maghrib isya ba'danya, shubuh ashar qabla nya, zhuhur qabla dan ba'danya. Itu untuk yg muakkad nya. Kalau yg ghair Muakkad, qabla di waktu isya dan maghrib, qabla di waktu ashar, qabla ba'da di waktu dzuhur. Nah kalau shalat bada shubuh itu ga ada. Itu salah." Akhirnya malu sendiri karna, salah melakukan ibadah.

Alih-alih ingin nambah pahala dan karna ia agaknya ingin dibilang soleh atau terlihat rajin. Ia malah mengada-ngada ibadah. Karna ibadah itu ya harus ittiba-ur Rasul, mengikuti nabi. Jadi ilmu itu adalah hal yang paling penting. Mau itu ilmu umum atau pengetahuan atau ilmu agama. Sebagaimana yang Wirda tuliskan di snapgram nya. Lihat di gambar ini!

Sangatlah setuju dengan tulisan yg beliau sampaikan. Nikah itu jangan cuma siap mental aja, juga perlu dipersiapkan ilmunya. Pasti bingung ilmu apa yang harus dipersiapkan?? Karna ga ada jenjang sekolah formal yang khusus untuk para ikhwan akhwat untuk menikah. Eh tapi ada loh, belum lama ini Kang Setia Furqon Khalid dan Teh Ina istrinya, mendirikan komunitas. Namanya 'SSN' alias santri siap nikah. Bagus tuh programnya, dulu sempet mau daftar. Tapi ah males keluarin biaya lagi *perhitungan sekali*

Juga berdasarkan pengalaman dan seperti biasa sifat dan sikap observatif saya yang terus muncul. Jadi, Orang-orang yang berilmu cenderung memiliki smart parenting nya yang bagus. Tau kan istilah 'Al ummu madrosatul-ula' seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Itu sangat sangatlah benar sekali! Saya punya teman si A yang orang nya ngeselin, kepribadiannya yg buruk sering membuat kotor hati. Istilah kata, sewaktu nyantren di DT Aa Gym. Kalo ada yang bikin jengkel yang ujung-ujung nya lidah pasti gatel pengen ngomongin tu orang, pasti kami (saya dan kawan lainnya) bakal bilang "aduh kotor hati kan jadinya". Alias dosa dan bikin hati jadi ada kotorannya.

Nah jika ada orang yang seperti itu, pasti saya langsung cek n ricek siapa ibu bapaknya, seperti apa mereka. Gimana riwayat pendidikan mereka. Dan dari situ bisa tau lah, oooh org tua yg seperti ini anak nya nanti begini.

Terus aku punya teman si B yang orang nya Subhanalloh baik banget, pinter, shaleha. Semua orang senang dekat dekat dengan beliau. Hmmmm, lalu kepo-in siapa orang tuanya dan bagaimana riwayat pendidikan nya. Terjawablah rasa penasaran ku. Dan ternyata orang tuanya orang yg berilmu.

Sering di bikin speechless sama mereka, para orang tua yang bijak. Karna mereka itu berilmu, walhasil mendidik anaknya pun dengan ilmu. Bukan dengan nafsu, yang seperti kebanyakan orang tua.

Contoh Konkret nya kita bisa lihat, yg sekarang sedang viral di sosmed yaitu ibuk Retno Hening. Bagaimana bisa seorang anak gadis kecil sangatlah pandai, cerdas, baik hati, dan happy terus. Itu bukan lah laduni labisa, bukan juga hal yang instan untuk menjadikan anak sedari Kecilnya bisa cerdas secara EQ dan IQ nya. Kalau bukan pendidikan yg benar dari orang tuanya. Konsep yang ibuk Retno hening terapkan pada Kirana, yaitu tentang pendidikan pada anak dengan melibatkan hati dan cinta. Pernah terfikir oleh saya sebelum Kirana menjadi viral seperti sekarang. Hanya saja, karena saya yg belum nikah jadi belum bisa mengaplikasikan nya. *makanya nikah dong*. LOL

Jadi dapat dipastikan, seseorang yang berilmu memiliki kontrol yg baik dalam hal komunikasi dan emosional nya. Ga mudah marah, berfikir logis dan juga kritis. Banyak sekali contoh tentang anak yg luar biasa cerdas dan luar biasa shalih, terlahir dari sang ibu yang berilmu. Jika dikalangan ahli ilmu, misalnya saja. Imam syafi'i, imam ahmad. Mereka dibesarkan oleh ibunya yg single parent. Juga seorang ulama dari mesir kisah nyata, dibesarkan oleh ibunya yg single parent. Suaminya pergi utk berperang dan ta pernah kembali setelah 30 tahun lamanya. Selama itu, istrinya berusaha menjadikan anak lelakinya seorang yg beragama dan berilmu, hingga menjadi ulama. Kisah selengkapnya ada di salah satu buku Ust Salim a Fillah. Lalu kisah nya sayyid nursi, badiuzzaman nya ulama dari Turki. Ia terlahir dari seorang ibu yg shaliha, hafal quran, dan sering menjaga wudhunya. Dan Seorang ayah yg jujur dan senantiasa berdzikir di setiap nafasnya.

Itulah bukti bahwa pernikahan hendaknya berlandaskan keimanan dan keilmuan. Sehingga dari pernikahan tersebut, melahirkan keturunan yang shalih, baik perangainya, Cerdas dan hal baik lainnya.

****

Oh ya pernah juga saya sempat drop! Karna judgment dari seseorang. Yang entah dimana letak kesalahan saya? Pernah ada yg berujar seperti ini "watirr teh payu ka lalakina", yang artinya "kasian sekali ga laku, belum ada laki² yang mau!" Langsung *banjiiiiiiir airmata* dan mikir apa salah nya saya? Karna ada kata-kata lainnya yg lebih menyakitkan lagi. Asliii, dulu mikir banget dah buat salah apa saya sama orang lain? Yang padahal saya orang nya ga banyak bicara, dan ga mau banyak bicara kalau bkn dengan orang yg bisa ngasih edukasi balik. Jadi saya cukup hati-hati dengan perkataan yg akan saya lontarkan. Karna saya pun tau, jika dari perkataan yg tidak dijaga bisa saja menyakiti hati orang. Jadi, pribadi saya yg terlalu dibawa perasaan alias baperan atau si lembut. Jika ada orang yg bicara dg bahasa kasar (karna bahasa sunda ada yg lembut dan kasar nya) saya pasti bakalan syok!! Lebay sih. Ya mau bagaimana lagi, karna MBTI saya yang ISFJ..

Dan judgment tersebut masih saya simpan di draf email T_T
padahal bisa saja ada pihak ketiga yg mau adu domba! Atau yg jadi kompor nya. Yang akhirnya menjadi sebuah kesalah fahaman. Bisa saja kan????? -_-

Tapi pasti ada hikmahnya dibalik setiap moment, yg sudah Alloh atur. Yappp! Betul sekali. Jadi hikmahnya adalah, harus lebih berhati-hati lagi dengan perkataan dan tingkah laku kita terhadap orang lain. Hikmah kedua nya, yaitu bisa dapet ilmu yg baru tentang pernikahan. Apa hubungan nya pernikahan dengan cerita di atas?????

Jadi, hikmah yg berkaitan dengan pernikahan nya yaitu kembali lagi pada esensi. Kenapa esensi? Seperti yg telah disebutkan diatas, kasian ga laku sama laki laki nya. Nah ini!! Esensi dari sebuah pernikahan bukan berarti dia sudah laku atau belum. Sehingga orang yg belum menikah di cap ga laku atau belum laku. Astaghfirulloh, saya banyak baca istighfar mendengar kalimat tersebut. Apakah seperti itu persepsi orang² pribumi mengenai para wanita yg belum menikah? Kalimat tersebut ga bagus dan salah besar! Karna menurut saya, sangatlah rendah dan hina sekali kalimat tersebut jika dikaitkan dengan yg namanya pernikahan yg sungguh agung. Dalam pernikahan saat ijab qabul dibacakan, maka bergetarlah Arasy Alloh SWT. Jadi bukanlah suatu hal yang sepele. Tapi antara dua orang yg sudah terikat dan saling berjanji untuk bisa saling mengingat dan fastabiqul khoirot dalam meraih ridho Nya.

Tapi saya ga sakit hati ko, dengan orang yang sudah berujar seperti itu. Karna Ust Adi Hidayat bilang, janganlah membenci terhadap orang nya. Tapi bencilah terhadap tabiat atau perkataannya. Karna kan masih sama-sama makhluk Alloh, karna bisa saja Alloh balikan hatinya bisa dapat hidayah. *Lah kooo, itu mah Pak Ahok atuh. LOL :D

***

Hm............, lumayan panjang ya tulisan kali ini jadi mohon dimaafkan bilamana ada yang salah dengan penulisannya. Maklum masih belajar! Sekali lagi, Jadi perspektif saya mengenai pernikahan sama kaya wirda ^_^ yaitu #ilmu #ilmu #ilmu Pembahasan lainnya dan conclusion dari bahasan jomblo kali ini, di lanjut ke bagian kedua ya,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Judulnya mengarang bebas tentang negeri sendiri

Indonesia , tempat dimana saya dan sebagian besar keluarga saya dilahirkan. Disinilah saya bertumbuh dengan segala keunikan, kelebihan...